Selasa, 19 Januari 2010

TEORI BELAJAR SIBERNETIK

Menurut teori sibernetik, belajar merupakan pengolahan informasi. Teori sibernetik menyatakan bahwa tidak ada suatu proses belajar yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh system informasi. Komponen pemrosesan informasi dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah: Sensori Receptor (sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar), Working Memory (diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh indifidu), Long Term Memory (diasumsikan berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki individu, mempunyai kapasitas tak terbatas, sekali informasi disimpan didalam LTM ia tidak akan pernah terhapus/hilang.
Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (19690 mengemukakan bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi struktur kognitif yang telah dimiliki individu. Reigeluth & Stein (1983) mengatakan pengetahuan ditata di dalam struktur kognitif secara hirarkis, artinya pengetehuan yang lebih umum & abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang rinci. Proses pengolahan informasi dalam ingatan di mulai dari proses penyandingan informasi (enconding), diikuti dengan penyimpanan informasi (strorage), dan di akhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah di simpan dalam ingatan (retrieval).
Teori sibernetik sebagai teori belajar dikritik karena lebih menekankan pada system informasi yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana proses belajar berlangsung sangat ditentukan oleh system informasi tersebut. Selain itu teori ini tidak membahas proses belajar secara langsung sehingga hal ini menyulitkan penerapannya.
Ada 9 tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah menarik perhatian, memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa, merangsang ingatan pada prasyarat belajar, menyajikan bahan berangsang, memberikan bimbingan belajar, mendorong unjuk kerja, memberikan balikan informative, menilai unjuk kerja, meningkatkan retensi dan alih belajar. Keunggulan stategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi adalah, cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol, penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis, kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap, adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai, adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan, yang sesungguhnya, control belajar memungkinkan belajar sesuai irama masing-masing individu, balikan informative memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk, kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.


TOKOH ALIRAN SIBERNETIK

1.LANDA
Menurut Landa ada 2 macam proses berfikir, yaitu:
Proses berfikir algoritmik , yaitu proses berfikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu.
Proses berfikir heuristic, yakni cara berfikir divergen, menuju ke beberapa target sekaligus.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari diketahui cirri-cirinya. Satu hal lebih tepat apabila disajikan dalam bentuk “terbuka” & memberi keleluasan siswa untuk berimajinasi & berfikir. Namun, untuk memahami makna suatu konsep yang luas banyak memiliki interpretasi maka akan lebih baik jika proses berfikir siswa dibimbing kearah yang “menyebar” (heuristic), dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu tidak tunggal, monoton, dogmatis & linier.

2.PASK & SCOTT
Pendekatan serialis yang diusulkan untuk pask dan scott sama dengan pendekatan algoritmik. Namun, cara berfikir menyeluruh (wholist) tidak sama dengan heuristic. Cara berfikir menyeluruh adalah berfikir yang cenderung melompat kedepan, langsug kegambaran lengkap sebuah sistem informasi. Pendekatan yang berorientasi pada pengelolaan informasi menekankan beberapa hal seperti ingatan jangka pendek (short term memory), ingatan jangka panjang (long term memory), dsb. Yang berhubungan dengan apa yang terjadi dalam otak kita dalam proses pengolahan informasi. Menurut teori sibernetik ini agar proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang perlu dipahami, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itupun perlu diketahui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar