Selasa, 19 Januari 2010

MEDIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDAHULUAN

Dalam sistem pendidikan modern, fungsi guru sebagai penyampai pesan-pesan pendidikan tampaknya perlu dibantu dengan media pendidikan, agar proses belajar mengajar pada khususnya dan proses pendidikan pada umumnya dapat berlangsung secara efektif. Hal ini disebabkan antara lain, materi pendidikan yang akan disampaikan itu makin beragam dan luas mengingat perkembangan ilmu teknologi yang makin pesat. Dewasa ini tampaknya guru bukanlah satu-satunya sumber belajar dan penyampai pesan-pesan pendidikan sebagaimana pernah terjadi sebelum tahun lima puluhan. Mulai tahun itu teori komunikasi sosial mulai masuk ke dalam sistem pendidikan, terutama televisi dan telah mulai digunakan dalam penyampaian pesan-pesan pendidikan.
Dengan mulai meluasnya penggunaan media pendidikan, maka faktor peserta didik mulai menjadi perhatian dari para pakar pendidikan, karena peserta didik yang akan menerima pesan-pesan pendidikan. Maka mulailah digunakan orang pendekatan sistem, yaitu media pendidikan termasuk salah satu sub sistem pendidikan yang menjadi pokok bahasan yang disampaikan menjadi lebih tepat guna dan bermakna. Media pendidikan telah menjadi katalisator dunia pendidikan.
Demikian pula halnya yang terjadi dalam dunia pendidikan agama Islam di Indonesia. Guru-guru agama Islam sudah mulai banyak menggunakan teknologi pendidikan modern. Sehubungan dengan telah meluasnya pemakaian media pendidikan ini dalam proses belajar mengajar maka dalam pembahasan ini akan disampaikan tentang pengertian, makna media pendidikan bagi guru agama Islam, fungsi, contoh tingkah laku (suri tauladan), pola, pemanfaatan dan keterbatasan media pendidikan agama Islam.
Semoga dari hasil pembahasan nanti akan memberi banyak manfaat bagi para pembaca, baik orang tua atau bagi pembaca yang menggeluti profesi sebagai pendidik.
PEMBAHASAN

A.Pengertian Media Pendidikan Agama Islam
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “lengan”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara
( ﻞﺋ ﺎﺴﻭ ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.1
Sedangkan media pendidikan agama Islam ialah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.2

B.Makna Media Pendidikan Bagi Guru Agama Islam
Yang dimaksud dengan makna di sini adalah media pendidikan yang digunakan itu mempunyai arti tersendiri bagi guru agama yang memakainya, sehingga dapat membantu peserta didiknya memproses pemilikan pesan-pesan pendidikan yang disampaikannya (achievement), karena ia dapat menyajikan pokok bahasan yang telah diprogramkan dengan penampilan yang lebih menarik perhatian mereka. Ia dapat mengatasi masalah materi pendidikan yang berkenaan dengan ruang, waktu dan tempat yang tidak mungkin dihadirkan guru secara kenyataan apa adanya.
Media pendidikan secara pedagogis dan psikologis dapat memenuhi harapan peserta didik untuk aktif mengikutinya dari awal sampai akhir karena unsur gerak, suara dan latar belakang gambar yang ditampilkan memberikan kesan tersendiri bagi mereka karena hal-hal demikian makin menambah bobot sajian yang ditampilkannya. Menurut penelitian gambar yang ditampilkan baik berupa lukisan maupun gambar dan suara secara serentak mempunyai makna tambah karena ia telah mengandung berbagai pesan yang dapat ditangkap oleh yang mengikutinya.3

C.Fungsi Media Pendidikan Agama Islam
Fungsi media pendidikan yang digunakan oleh para guru agama dalam proses belajar mengajar yaitu:
1.Membantu guru dalam bidang tugasnya
Media pendidikan agama bila digunakan secara tepat dapat membantu mengatasi kelemahan dan kekurangan guru dalam penggunaan metodologi pengajarannya. Sehingga metode mengajar yang berpusat kepada guru atau guru sentries dapat dikurangi, agar keaktifan belajar mereka makin meningkat. Dengan meningkatkan aktivitas mereka ini, berarti prinsip belajar aktif dengan mengalami sendiri, menelaah dan menjelajah sendiri akan membuahkan hasil belajar yaitu menguasai bahan pelajaran tersebut karena diperoleh dengan usaha sendiri (experience, exploration and iscovery)
2.Membantu para peserta didik
Dengan menggunakan media pendidikan yang dipersiapkan dengan baik, berarti guru agama telah membantu peserta didiknya mengaktifkan unsur-unsur psikologis yang ada dalam diri mereka seperti pengamatan, daya ingatan, minat, perhatian, berpikir, fantasi, emosi dan perkembangan kepribadian mereka. Sikap jiwa mereka yang tenang dengan minat
belajar yang besar ini sangat potensial sekali ditumbuhkembangkan
sebagai dasar materi keimanan, ibadah, muamalah, sikap sosial, pembentukan akhlak karimah dan sebagainya. Pesan-pesan pendidikan agama yang
dibantu dengan media pendidikan agama dapat membangkitkan motivasi kegairahan.4

D.Contoh Tingkah Laku (Suri Tauladan) Dalam Media Pendidikan Agama Islam
Para nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak sebagai guru-guru yang baik dan sebagai pendidikan keagamaan yang agung. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah, Nabi selalu menunjukkan sifat-sifat yang terpuji. Hal ini diungkapkan dalam Al-Qur'an surat Al Ahzab: 21, yang artinya

"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu" (QS. Al Ahzab; 21)

Nabi selalu memberikan contoh tauladan atau menjadikan dirinya sebagai model dalam menda’wahkan seruan Allah. Sebagai contoh, sewaktu meletakkan Hajarul Aswad ketika membangun kembali Ka’bah. Contoh teladan yang baik tersebut sangat besar pengaruhnya dalam misi pendidikan Islam dan dapat menjadi faktor yang menentukan terhadap keberhasilan dan perkembangan tujuan pendidikan secara luas.5
Melalui tingkah laku atau suri tauladan yang ditampilkan oleh para pendidik dalam kehidupan di lingkungan sekolah merupakan alat peraga atau media pendidikan yang hidup di dalam jiwa para peserta didiknya. Mereka dapat melihat yang dikerjakan pendidiknya dan mendengarkan ucapan yang dituturkan di hadapan mereka. Mereka secara psikologis dan sosiologis cenderung meniru atau mengiritasi semua penampilan pendidik mereka yang menjadi idola dalam diri mereka.
Contoh-contoh tingkah laku yang ditampilkan adalah media pendidikan yang sangat bermakna bagi peserta didik kita dan dapat mewarnai pembentukan kepribadian mereka bila contoh tingkah laku ini secara terus menerus ditampilkan secara sengaja dan berencana.
Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara contoh tingkah laku mendapat kedudukan utama dan dijadikan media pendidikan dalam upaya membentuk kepribadian peserta didik. Ada tiga konsep media pendidikan dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang amat terkenal yaitu:
1.Tut Wuri Handayani
2.Ing Madyo Mangun Karso
3.Ing Ngarso Sung Tulodo
Melalui contoh tingkah laku lingkungan khususnya di sekolah akan diinternalisasikannya. Sebab itu contoh tingkah laku dapat dijadikan media pendidikan yang sangat ampuh bagi diri peserta didik di lingkungan pendidikan formal.6

E.Pola Media pendidikan Agama Islam
Secara menyeluruh pola media pendidikan agama Islam itu terdiri atas :
1.Bahan-bahan cetakan atau bacaan (supplementary materials). Berupa bahan bacaan seperti: buku, komik, koran, majalah bulletin dan lain-lain. Bahan-bahan ini lebih mengutamakan kegiatan membaca atau penggunaan simbol-simbol kata dan visual.
2.Alat-alat audio visual
Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini terdiri atas:
a.Media pendidikan tanpa proyeksi, seperti: papan tulis, papan tempel, papan panel, diagram, grafik, poster, kartun, komik
b.Media pendidikan tiga dimensi
Alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini terdiri dari: model, benda asli, contoh, peta, globe, museum sekolah dan lain-lain
c.Media pendidikan yang menggunakan teknik atau masinal. Adapun alat-alatnya yaitu film rekaman, radio, televisi, komputer dan lain-lain
3.Sumber-sumber masyarakat, berupa objek-objek, peninggalan sejarah, dokumentasi dan lain-lain
4.Kumpulan benda-benda (material collections) berupa benda-benda atau barang-barang yang dibawa dari masyarakat ke sekolah untuk dipelajari, seperti potongan kaca, daun dan lain-lain.7

F.Pemanfaatan dan Keterbatasan Media Pendidikan Agama Islam
1.Pemanfaatan media pendidikan agama Islam
Dewasa ini telah banyak terdapat dalam masyarakat berbagai jenis media pendidikan yang bersifat non formal baik yang diusahakan oleh pemerintah, maupun oleh masyarakat sendiri dalam rangka meningkatkan kehidupan umat Islam dalam bidang agama. Keadaan sarana pendidikan agama yang menguntungkan ini, hendaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh semua guru agama Islam untuk meningkatkan kualitas hasil didikan kita. Pemanfaatan ini dapat dilakukan dengan mengadakan kerjasama antara sekolah dan orang tua peserta didik dan dengan para peserta didik sendiri yang berarti kita sebagai guru agama mereka sangat memperhatikan pendidikan agama mereka secara serius.
Dan dari pihak yang dapat ditempuh untuk memanfaatkan media pendidikan non formal ini, seperti guru beserta peserta didik mengikuti acara tersebut secara bersama-sama kemudian mendiskusikannya.
Pemanfaatan media pendidikan baik yang diselenggarakan secara formal dan non formal, dapat membantu para peserta didik kita untuk belajar mandiri melalui media komunikasi agama yang diikuti mereka. Dan di dalam diri mereka terbentuk sikap senang mengikuti pendidikan agama sejak kecil dan senang mencatat semua yang dialaminya. Budaya mencatat ini sejak baik sekali dikembangkan, karena merupakan memori atau kenang-kenangan yang bersifat agamis dan akan mewarnai perkembangan kepribadiannya kelak.
Ada beberapa manfaat lainnya yang dapat diperoleh dengan menggunakan media pendidikan di luar sekolah, yaitu:
a.Memberi umpan balik untuk penyempurnaan proses belajar mengajar yang telah berlangsung atau yang akan direncanakan.
b.Pokok bahasan bagi peserta didik yang lebih fungsional dan terasa manfaatnya bagi peserta didik yang bersangkutan.
c.Membiasakan peserta didik kita untuk lebih meyakinkan terhadap pendidikan agama yang diajarkan, sehingga akan menimbulkan rasa hormat dan kagum terhadap gurunya.8
2.Keterbatasan Media Pendidikan Agama Islam
Ada beberapa kelemahan media pendidikan yang merupakan keterbatasannya dan cara mengatasinya:
a.Pemakaian media pendidikan agama ini hanya dapat digunakan sebagai alat bantu PBM, bukan untuk pengganti proses belajar mengajar atau pengganti media instruksional.
b.Ada media pendidikan yang tidak bisa digunakan di daerah yang tidak ada listriknya seperti OHP dengan transparannya, film, televisi, rekaman video atau aliran listrik tiba-tiba putus atau mendadak
c.Untuk memelihara media pendidikan yang canggih atau elektronik memerlukan ekstra hati-hati dan juga pengamanannya agar dapat digunakan dalam jangka waktu lama.9
KESIMPULAN

Dari bahasan yang telah dijelaskan dalam makalah ini, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1.Media pendidikan agama Islam yaitu semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
2.Makna media pendidikan bagi guru agama Islam sendiri ialah media pendidikan yang digunakan itu mempunyai arti tersendiri bagi guru agama yang memakainya, sehingga dapat membantu peserta didik memproses pemilikan pesan-pesan pendidikan yang disampaikannya (achievement)
3.Fungsi media pendidikan agama Islam yaiu:
a.Membantu guru dalam bidang tugasnya seperti mengatasi kelemahan dan kekurangan guru dalam penggunaan metodologi pengajarannya.
b.Membantu para peserta didiknya dalam mengaktifkan unsur-unsur psikologis yang ada dalam diri mereka seperti pengamatan, emosi dan lain-lain.
4.Contoh tingkah laku (suri tauladan) dalam media pendidikan agama Islam adalah suri teladan yang diberikan oleh guru, misalnya dalam bertutur kata, pergaulan antara sesama guru di sekolah.
5.Pola media pendidikan agama Islam di antaranya yaitu bahan-bahan cetakan atau bacaan (supplementary materials), berupa bahan bacaan seperti: buku, komik, koran dan lain-lain.
6.Pemanfaatan dan keterbatasan media pendidikan agama Islam
a.Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan media pendidikan di luar sekolah seperti: memberi umpan balik untuk penyempurnaan proses belajar mengajar yang telah berlangsung atau yang akan direncanakan.
b.Ada beberapa kelemahan media pendidikan yang merupakan keterbatasannya dan cara mengatasinya seperti: untuk memelihara media pendidikan yang canggih atau elektrinik memerlukan ekstra hati-hati dan juga pengamannya agar dapat digunakan dalam jangka waktu lama.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, 2004. Media Pembelajaran Jakarta: Rajawali Pers.
Hamalik, Oemar, 1989. Media Pendidikan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Rasyad, Aminuddin dan Darhim, 1997. Media Pengajaran, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama
Usman, M. Basyiruddin dan Asnawir, 2002. Media Pembelajaran Jakarta: Ciputat Pers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar